Inilah ceritaku tentang penyakit hati terparah yang pernah aku derita, yang orang-orang namakan “Cemburu”.
Dulu, aku pernah disakiti oleh seorang lelaki yang sangat aku sayangi. Bukan, dia bukan menduakan aku. Dia hanya lupa kalau dia memintaku untuk menunggunya, sehingga dia mendekati seorang perempuan lain dengan harapan besar untuk menjadikan perempuan itu kekasih barunya. Jangan ditanya bagaimana sakitnya aku rasakan itu. Luar biasa!! Entah dia berpura-pura lupa atau memang benar-benar lupa dengan apa yang pernah dia ucapkan padaku di hari berakhirnya hubungan kami.
Perempuan itu, sangat mengganggu pikiranku. Dari awal aku mengenal (hanya di dunia maya) perempuan itu, aku merasa akan ada sesuatu antara aku dan dia. Ternyata memang betul. Ah, tajam sekali firasatku itu. Kesal!
Baru genap sebulan aku dan lelaki itu sepakat untuk berpisah sementara dulu, sang lelaki ini mendekati si perempuan itu yang notabennya adalah junior di kampusnya yang sangat kebetulan adalah junior dia juga di salah satu unit kegiatan mahasiswa di kampusnya, jauh di sana. Iya betul, kami selama ini LDR (Long Distance Relationship), antara Jakarta dan Bandung. Tak perlu ada yang memberitahu pun, kecanggihan teknologi yang berwujud jejaring sosial, membuatku mengetahui jejak-jejak pendekatan itu. Dan penyakit hati itu pun mulai muncul.
Perlahan aku pun mulai merasa terancam dengan kehadiran sosok perempuan baru ini. Makin hari mereka semakin dekat dan semakin mesra. Membuat aku hilang akal. Padahal saat-saat itu adalah saat-saat terberat aku karena harus menyelesaikan studiku di perguruan tinggi tempat aku menimba ilmu dan mengejar gelar sarjana.
Aku hilang akal sejadi-jadinya.
Baru sekalinya itu aku menderita cemburu paling parah seumur hidup aku. Rasa-rasanya aku ingin datang ke hadapan mereka berdua dan membakar hidup-hidup mereka berdua karena menyakiti hati aku. Tapi mereka berdua beruntung, aku tak cukup banyak waktu untuk jalan-jalan ke Bandung sana untuk menamatkan riwayat mereka. Lagipula, masa depan aku bisa hancur cuma karena masalah itu. Akhirnya aku memilih cara yang paling sehat. Aku mengganggu mereka dengan caraku. Jahat? Haha, terserah. Di pikiranku waktu itu yang jahat adalah lelaki itu. Kira-kira begini, “karena aku gak bahagia, kalian juga gak boleh bahagia”.
Seperti di sinetron-sinetron aja, aku bertingkah menjadi perempuan paling annoying untuk lelaki itu. Aku ganggu dia tiap hari. Aku terus ganggu dia dengan caraku agar dia terus merasa bersalah. Aku juga selalu paksa dia untuk bertemu denganku kalau dia pulang ke Jakarta. Aku paham betul dari matanya, tak ada lagi cinta untukku. Dan aku sangat menderita dengan hal itu. Setiap hariku kosong, setiap hari ku menangis. Peduli apa dia denganku yang begini??
Tahukah dia waktu aku bertingkah annoying seperti itu justru aku menangis? Aku bukan perempuan sejahat itu kok. Aku cuma mencoba mengingatkan dia akan kata-katanya yang pernah dia ucapkan itu. Aku cuma tak sanggup untuk melihat kebersamaan dia dan perempuan itu. Aku juga tak sanggup untuk sekedar membayangkan kalau dia dan perempuan itu bersatu pada akhirnya nanti.
Kalian tau? Sebegitunya lelaki itu pernah membenci aku dan menganggap aku pengganggu, dia memblokir nomor aku di handphone nya. Semua perlakuan si lelaki ini lah yang membuat aku semakin membenci si perempuan itu semakin hari. Aku sangat benci dia. Aku benci melihat senyumnya di foto. Aku benci melihat semuanya tentang perempuan itu. Apa pun itu.
Karena aku berbeda 180 derajat dari perempuan itu. Aku terus membanding-bandingkan diriku dengan perempuan itu tanpa henti. Aku hitam, pendek, gemuk, jelek, bodoh, pemurung, dsb. Tapi perempuan itu putih, tinggi, kurus, cantik, pintar, periang, semua orang suka dia. Dan itulah mengapa aku makin membenci perempuan itu.
Otak aku dipenuhi pikiran-pikiran negatif ini itu. Membayangkan mereka tertawa-tawa, jalan bareng, makan bareng, bersenang-senang, dsb. Memang itulah yang mereka sudah lakukan. Sementara aku?? Membenci lelaki yang tidak tampan itu saja tak sanggup, apalagi untuk melupakan dan cari yang baru?? Tidak. Waktu itu aku terus bertahan dengan janjiku untuk menunggu dia, akan ku tunjukkan pada dia apa yang namanya memenuhi janji itu.
Aku cemburu dengan perempuan itu. Sangat. Aku cemburu sekali. Bisa-bisanya dia hadir mengganggu hari-hari aku dan lelaki itu??! Kalian tau? Aku diet mati2an biar bisa kurus seperti dia, belajar yang banyak biar pintar seperti dia, merawat muka biar bisa seperti dia. Segalanya aku lakukan. Apa lagi? aku belajar menjadi orang yang periang seperti dia. Aku berusaha keras menjadi orang lain. Agar bisa seperti dia. Aku cari tau semuanya tentang dia. Nomor handphone nya. Kesukaannya, semuanya! Aku liat semua fotonya satu per satu. Segalanya tentang dia. Sampai aku letih dengan semua yang aku lakukan itu
Dan untungnya aku sadar. Semua ini tak baik untukku. Akhirnya ku pasrahkan semua pada Allah SWT. Aku pasrah sepasrah-pasrahnya. Aku mencoba untuk ikhlaskan semua itu. Aku kikis perlahan rasa cemburu aku itu. Aku tau perempuan itu bahkan gak punya salah apa-apa. Yang salah adalah lelaki itu. Dan tentu saja, yang salah adalah aku yang gak membiarkan mereka bahagia dengan caranya.
Dan setelah aku pasrahkan semua itu, keadaan berangsur membaik. Terus membaik. Dan aku berhutang terima kasih banyak pada perempuan itu yang memilih untuk meninggalkan si lelaki ini karena menimbang perasaanku yang posisinya pada saat itu tidak jauh berbeda dari aku. Setelah aku berkomunikasi dengan perempuan itu langsung, meminta maaf, semua jadi terasa lega, ya meskipun masih ada sisa-sisa rasa. Seperti, aku masih tetap melihat aktivitas dia di situs jejaring sosial ternama itu, aku tak bisa menahan diriku unruk sekedar mampir ke profile-nya dan melihat-lihat. Hehehehe… aku juga heran, kenapa aku selalu ngerasa, “deg!” tiap ngeliat nama dia muncul di home, di handphone aku sendiri, di handphone lelaki itu, dimana-mana. Karena nama yang kayak dia banyak. Huuuuuuuuuuuuufffffffff…. Letihnya hati ini karena penyakir hati akut yang bernama “CEMBURU”. Gak akan lagi mudah-mudahan yang seperti itu. Amin.
No comments:
Post a Comment